Ngga perlu dibilang juga uda mendunia kalo yang namanya Piala Dunia selalu bikin heboh. Saat ini sepakbola bukan hanya milik kaum pria, atau orang-orang yang punya fisik sempurna, bahkan juga bukan hanya permainan manusia, dari ikan sampai robot bisa dimanfaatkan sebagai pengoper bola bulat.
Walaupun tak berperan langsung sebagai striker, gelandang, maupun kiper, juga bukan atribut pertandingan seperti wasit, anak pengambil bola, pemegang bendera, ataupun petugas keamanan, dan bahkan juga bukan suporter yang rela menguras beberapa ribu dollar untuk menonton pertandingan di stadion berkapasitas puluhan ribu penonton, tapi hanya memposisikan diri sebagai pemirsa setia televisi, bolehlah, tetap dibilang berperan kan dalam meramaikan perhelatan bola paling seru seantero dunia.
Percaya ngga percaya, sebuah bola bundar berdiameter tak lebih dari setengah betisnya Beckham, mampu mempengaruhi berbagai sisi kehidupan manusia bumi. Sesuai dengan inti dari permainan sepakbola, kesehatan jadi alasan utama para pemainnya. Dari segi ekonomi, jelas menguntungkan banyak perusahaan yang memanfaatkan event ini buat promo produknya, negara penyelenggara pun ketiban rezeki nomplok berlipat-lipat bila dibandingkan dengan modal awal yang dikelurkan untuk perbaikan stadion dan tata kota. Dampak sosialnya, mode sedang terarah pada segala sesuatu yang berbau bola maupun seragam tim-tim favorit dunia, seandainya saja baju kebaya dan batik bisa sepopuler itu, ck..ck..ck..
Senengnya, ajang penuh sportivitas ini juga digunakan sebagai simbol perdamaian, kepedulian (terhadap anak-anak misalnya, yang dimotori oleh Unicef), dan memberi contoh bahwa persaingan bukan berarti permusuhan, yang mengalahkan dan dikalahkan pada akhirnya akan saling berpelukan dan bertukar kaos yang dipakainya, itulah sportivitas.
Sering liat dong iklan Coca-Cola yang menampilkan Koki vs Ayamnya, Pohon vs Penebang Kayu, Nyamuk vs Pemukulnya, Kaktus vs Balon Merahnya, dan Profesor vs Kelinci Percobaan. Pasangan yang sangat-sangat kontras ini bahkan bisa melupakan musuhnya ketika penyiar televisi meneriakkan goal akibat tendangan bebas dari luar kotak penalti. Emang sih, cuma iklan, dan beberapa terlihat tak mungkin terjadi, membayangkan Kaktus memeluk erat Balon tanpa menyebabkan si Balon pecah, atau Nyamuk yang dengan semangatnya ber"cha" ria di hadapan Pemukulnya, dan Koki yang justru menari penuh gembira dengan si Ayam, bo’ong banget kan?! tapi mungkin ngga sih, dua pihak yang sedang bertikai melupakan sesaat pertikaiannya untuk sebuah moment berharga, dua negara yang sedang bersitegang bisa berjabat tangan untuk niat berdamai, tanpa ada "alasan lain", indah ngga sih?! Kalo bisa demikian, Piala Dunia-nya sebulan sekali aja deh, biar seumur hidup bisa bernafas dengan lega
Ya sih, mungkin ada yang protes, kalo ngga ada perbedaan ngga bakal seru, tapi bisa kan menghadapinya dengan sportivitas yang sama dengan pertandingan sepakbola?